Home > Travel > Sempat Berpolemik, Ini Aturan Berkunjung Sesuai Adat Istiadat Suku Baduy

Sempat Berpolemik, Ini Aturan Berkunjung Sesuai Adat Istiadat Suku Baduy

Sempat Berpolemik, Ini Aturan Berkunjung Sesuai Adat Istiadat Suku Baduy

Suku Baduy adalah sebuah masyarakat adat yang terletak di Lebak, Banten. Mereka punya beberapa aturan adat istiadat Suku Baduy yang tidak boleh dilanggar, seperti mengisolasi dari dunia luar, menutup diri dari perkembangan dunia, tidak mendokumentasikan apa pun tentang mereka–terutama Suku Baduy Dalam–dan masih melakukan beberapa upacara adat untuk memuji leluhur mereka.

Kita mengenal suku yang berpopulasi 26.000 jiwa ini dengan adanya paket wisata berkunjung dan menginap di sini. Namun, beberapa waktu lalu, Suku Baduy menolak untuk menjadi tujuan wisata lagi. Bahkan, mereka sempat menulis surat ke Presiden Joko Widodo untuk menutup tujuan wisata Suku Baduy.

Alasan Penolakan Suku Baduy Jadi Tujuan Wisata

Masalah ini muncul ketika masyarakat Baduy merasa terlalu banyak menerima wisatawan. Selain itu, foto-foto Suku Baduy Dalam juga tersebar di Internet serta masalah sampah yang ditinggalkan wisatawan yang tidak bertanggung jawab. Padahal kawasan Baduy Dalam adalah bagian sakral dan tidak boleh sembarang mengambil foto.

Dengan dasar itulah, Suku Baduy menolak untuk menjadi destinasi wisata. Akhirnya Lembaga Adat Baduy mengirim surat ke Presiden Joko Widodo dan pejabat terkait, seperti Gubernur Banten, Bupati Lebak, dan sejumlah kementerian terkait.

Beberapa Aturan Adat Istiadat Suku Baduy Saat Berkunjung

Polemik ini kemudian menemukan titik temu setelah pihak Lembaga Adat Baduy dan Pemerintah terkait bertemu. Pihak adat Baduy masih akan membuka kunjungan. Karena, menurut mereka, menutup kunjungan berarti menutup pintu silaturahmi.

Namun, ada beberapa aturan yang sebaiknya kamu tahu kalau kamu ingin mengunjungi Suku Baduy. Berikut rangkumannya.

1. Mengganti kata ‘wisata’ menjadi ‘saba’

tempat tingal suku baduy

Sumber: Travel Kompas

Kesepakatan pertama suku adat dengan pemerintah adalah mengganti kata ‘wisata’ menjadi ‘saba. Kata ‘wisata’ dianggap sebagai tontonan, hiburan, dan pengembangan. Sedangkan kata ‘saba’ dalam Bahasa daerah berarti berkunjung, bersilaturahmi, dengan saling menjaga dan menghargai adat istiadat.

Sementara adat budaya Baduy adalah tuntunan saling menghargai dan menjaga satu sama lainnya, baik itu dengan pencipta, manusia, maupun alam semesta. Oleh karena itu, penamaan wisata Baduy atau destinasi wisata Baduy harus diganti dengan “Saba Budaya Baduy”.

2. Nama tersebut harus diterapkan di seluruh media

Penamaan itu harus diganti di semua media, baik papan petunjuk arah jalan, reklame, ataupun nomenklatur yang ada di kementerian, departemen, lembaga, dinas, instansi. Juga, di kantor, stakeholders lainnya, termasuk di media cetak, media elektronik, media daring, dan media sosial.

3. Menyelesaikan persoalan sampah

Terkait pencemaran lingkungan akibat sampah plastik, Lembaga Adat Baduy telah menunjuk petugas kebersihan. Ke depan, semua tamu Saba Budaya Baduy juga wajib mengisi buku tamu dan mencatatkan maksud tujuan silaturahim Saba Budaya. Semua akan diatur dan ditata sesuai yang tertuang dalam Perdes Kanekes Nomor 1 Tahun 2007 tentang Saba Budaya dan Perlindungan Masyarakat Tatar Kanekes.

BACA JUGA:

Artikel Rekomendasi kami