Home > Money & Career > Sering Lelah Setelah Video Conference? Ini Alasan dan Cara Mengatasinya

Sering Lelah Setelah Video Conference? Ini Alasan dan Cara Mengatasinya

Sering Lelah Setelah Video Conference? Ini Alasan dan Cara Mengatasinya

Selama masa work from kost di tengah pandemi Covid-19 ini, meeting melalui video conference jadi salah satu agenda utama untuk kelancaran pekerjaan. Herannya, meski membantu, setelah video conference bersama beberapa rekan kerja lain, banyak orang yang sering merasa lelah.

Hal tersebut bukannya tanpa alasan. Kepada BBC.com, Gianpero Petriglieri, associate professor di sekolah tinggi bisnis INSEAD, mengungkapkan ketika melakukan video conference, peserta harus bekerja lebih keras—dibanding bertemu langsung—untuk mengolah komunikasi nonverbal yang terlihat, seperti ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh lainnya.

“Memusatkan perhatian untuk hal-hal tersebut pada kenyataannya menghabiskan banyak energi,” tambah Gianpiero. Malah, seringkali, pikiran dan tubuh berjalan tidak seimbang. Ketidakcocokan keduanya dalam waktu bersamaan, membuat kamu malah tidak relaks, akhirnya merasa lelah setelah meeting berakhir.

Tentu saja, meski melelahkan, video conference harus tetap kamu lakukan demi kelancaran pekerjaan. Supaya kamu bisa lebih relaks pada meeting via video chat selanjutnya, kenali beberapa alasan dan cara mengatasi kelelahan karena video conference tadi berikut ini.

1. Terganggu dengan wajah sendiri

Ada alasannya mengapa kantor atau ruang kerja sebaiknya tidak dipenuhi oleh cermin, sebut Gretchen McCulloch, ahli bahasa Internet dan penulis buku Because Internet: Understanding the New Rules of Language, dilansir dari CNBC Make It. Cermin di ruang kerja akan menganggu konsentrasi kerja.

Hal tersebut terjadi juga ketika kita melihat wajah sendiri pada video conference. Cemas kalau diri sendiri terlihat tidak reaktif terhadap isi meeting, akhirnya kamu akan berusaha sekuat tenaga lebih ekspresif dan tampak aktif menanggapinya.

Solusi: Bila tidak tahan memandang pada diri sendiri selama video conference, minta izin untuk mematikan mode videonya. Sehingga, hanya suara kamu yang terdengar. Cara lainnya, lakukan sesuatu menggunakan tangan kamu, misalnya menulis, membuka bahan diskusi, atau apapun untuk mengalihkan perhatian dari layar. Sesekali dapat kembali menatap layar tanda kamu memperhatikan meeting.

2. Beberapa orang sulit berbicara dalam waktu bersamaan

Perlu diakui bahwa salah satu kelemahan video chat adalah sulit untuk semua peserta melakukan berbagai dialog dalam waktu bersamaan. Misalnya, si A bertanya pada si B tapi dalam waktu bersamaan si C akan menyanggah omongan si D.

Kondisi saling menyanggah ini yang sulit—bukan tidak mungkin—dilakukan karena ketika satu orang bicara, yang lain perlu memperhatikan supaya suaranya tetap terdengar. “Secara manusiawi, kita cenderung punya obrolan sampingan saat berada dalam sebuah grup. Tapi, teknologi video chat membatasinya,” jelas Gretchen.

Di tambah lagi, masalah sinyal yang putus-putus yang menurunkan kualitas video dan suara membuat komunikasi via video chat makin sulit.

Solusi: Tetapkan seseorang yang berperan jadi moderator untuk membuat obrolan tetap terstruktur dan tepat sasaran. Manfaatkan kolom chat text bila ingin berbagi informasi atau bertanya satu hal bila yang lain sedang berbicara. Dan, coba bicara lebih pelan dari biasanya untuk menghindari omongan yang tidak sampai karena sinyal yang jelek.

3. Background bikin awkward

Menurut James Jarc, asisten profesor di Central Ohio Technical College, AS, biasanya kita memisahkan antara ruang kerja dan kehidupan di tempat tinggal. Tapi, video conference seakan-akan mengundang teman-teman kamu ke kost.

Batas antara ruang personal dan profesional jadi kabur. Orang akan melihat—meski sedikit—bagian dari kamar kamu. Padahal, kamu tidak ingin memperlihatkan ruang pribadi tersebut. Akhirnya, kamu merasa akward.

Solusi: Untungnya, beberapa platform video conference memberikan pilihan background untuk menyamarkan kondisi kamar kamu. Tapi, bila tidak ada, cari tempat yang background-nya polos atau hanya sedikit barang.

Bila perlu keluar dari kamar kost dan mencari sudut kost lainnya, lakukan saja. Asalkan, tempat tersebut tetap membuat kamu nyaman, ya.

4. Tawarkan alternatif cara meeting lain

Tidak semua pertemuan virtual harus dilakukan melalui video, tuh. Meeting virtual dilakukan untuk membahas sebuah proyek atau tugas kerja. Nah, sekiranya pembahasan tersebut tetap efektif dilakukan melalui telepon atau conference call (concall) saja, tawarkanlah via concall saja.

Biasanya, melalui suara saja, orang justru lebih dapat fokus pada permasalahan yang dihadapi. Mereka dapat sambil menulis, membaca bahan meeting, mencari informasi lain sambil mendengarkan percakapan tanpa harus terpaku pada layar. Dampaknya, bisa menghasilkan banyak ide-ide baru.

Solusi: Gunakan video call bila memang sangat diperlukan. Contohnya, hendak presentasi atau memperlihatkan sesuatu langsung pada peserta meeting. Selain hanya via concall, dapat juga membahas  pekerjaan melalui email, yaitu saling membalas email. Percakapan via email memberikan waktu bagi orang lain untuk memikirkan balasan yang tepat. Sehingga, pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik.

Terus Beradaptasi

Walau bagaimanapun, meeting menggunakan teknik video conference pasti bakal lebih sering digunakan nantinya. Apalagi, teknologi semakin maju dan sambungan Internet akan terus membaik. Untuk itu, terus berusaha membiasakan diri menghadiri meeting via video call dan cari cara terbaik supaya lebih tenang saat meeting. Tujuannya, aga kamu lebih mahir lagi menggunakan teknologi kelak.

 

BACA JUGA: 

Artikel Rekomendasi kami