Home > Money & Career > 5 Anggapan yang Salah dari Pekerjaan Sosial Media

5 Anggapan yang Salah dari Pekerjaan Sosial Media

5 Anggapan yang Salah dari Pekerjaan Sosial Media

50 tahun yang lalu mungkin pekerjaan social media marketing bukanlah hal yang dianggap terlalu penting. Tapi sekarang berbagai lini bisnis membutuhkan pekerjaan sosial media sebagai salah satu media marketing. Social media marketing adalah salah satu dari berbagai jenis marketing yang sekarang banyak digunakan. Sederhananya, marketing jenis ini memanfaatkan peran media sosial dalam proses marketingnya.

Karena pekerjaan ini masih baru dan masih banyak masyarakat beranggapan bahwa Instagram dan Facebook hanyalah main-main, orang-orang yang berkecimpung di dunia sosial media pun juga dianggap hanya main-main. Padahal banyak hal yang harus dipelajari saat menjadi sosial media, entah itu menjadi sosial media admin, content writer, desainer grafis, sampai sosial media analis. Apa saja anggapan salah yang beredar selama ini tentang pekerjaan sosial media marketing? Atau kamu pernah mengalami salah satunya? Simak ulasannya berikut ini!

5 Anggapan yang Salah dari Pekerjaan Sosial Media

1. “Main Facebookan terus”

Siapa dari kamu yang berprofesi sebagai sosial media terus pernah dikatain begini? Padahal pekerjaan sosial media bukan saja melihat timeline Facebook. Algoritma dan tren apa yang sedang terjadi juga penting untuk dipelajari supaya menentukan strategi pemasaran lewat sosial media. Belum lagi harus dilihat demografis pengunjung page sosial media.

Ditambah Instagram dan Facebook punya algoritma berbeda yang terus berubah-ubah seiring dengan perkembangan waktu. Itu sebabnya sosial media dibutuhkan fleksibilitas yang tinggi.

2. “Kerjaannya bikin status doang?”

Ketika kamu bilang bahwa pekerjaanmu adalah sosial media, banyak kalimat yang reaksinya seperti : “kerjaannya bikin status doang?”. Pekerjaan ini memang sulit dijelaskan karena tergolong masih baru di Indonesia. Bikin status sih, tapi tidak ‘doang’ karena kalimat dan kata-kata yang terpampang pada halaman sosial media adalah citra dari perusahaan.

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam pemilihan kata, harus punya perbendaharaan kosakata yang banyak, kreativitas yang mumpuni, sampai pengetahuan tentang algoritma dari sosial media.

3. “Kerjaannya kan bikin gambar-gambar doang”

Kalimat inilah yang sering orang katakan kepada para desainer grafis. Menggambar, dulu waktu masih kecil adalah pekerjaan sepele yang semua orang bisa. Tapi hari ini, di dunia kerja yang menuntut kreativitas dan semua masyarakat lebih tertarik melihat visual, pekerjaan menggambar adalah sebuah skill yang menjual. Desainer grafis bukan hanya bisa gambar, tapi juga punya kemampuan hard skill lain karena bentuk digital marketing pun semakin beragam.

BACA JUGA: 5 Tips Membuat Portofolio Content Writer Agar Dilirik Perusahaan

4. Pekerjaan Sosial Media selalu siap sedia kapan pun

Berbeda dengan pekerjaan kantoran yang harus duduk di kursi kantor dan melihat laptop, pekerjaan sosial media harus siap sedia 24 jam. Maksudnya karena sosial media sangat interaktif dan langsung menghadapi konsumen, mangkanya pekerjaan ini juga bisa dikerjakan di mana saja kapan saja. Apalagi kalau kamu sedang punya ide konten di luar jam kerja, kamu harus menuliskannya terlebih dahulu supaya nanti tidak lupa pada saat diaplikasikan di page sosial media perusahaan.

5. Tidak perlu kuliah tinggi-tinggi, kan cuma main Instagram sama Facebook

Kebanyakan orang berpikir bahwa sosial media tidak perlu kuliah tinggi-tinggi. Tapi sayangnya, pekerjaan ini sudah banyak diminati oleh pasar. Orang yang berpengalaman dan berpendidikan tinggi jadi incaran untuk menjalankan digital marketing mereka.

Artikel Rekomendasi kami