Home > Money & Career > Cara Mengirim Email Lamaran Kerja yang Tepat Supaya Dapat Kesempatan Wawancara

Cara Mengirim Email Lamaran Kerja yang Tepat Supaya Dapat Kesempatan Wawancara

Cara Mengirim Email Lamaran Kerja yang Tepat Supaya Dapat Kesempatan Wawancara

Saat ini, memasukkan lamaran pekerjaan sudah semakin mudah. Banyak pada situs-situs lowongan pekerjaan, jika sudah ada posisi yang cocok, kamu tinggal klik “apply” sudah terkirim lamaran pekerjaan tersebut. Meski demikian, mengirim aplikasi melalui email masih sering dilakukan dan diterima. Supaya sukses dilirik perusahaan yang dilamar, kamu perlu gunakan cara mengirim email yang tepat.

Ada berbagai alasan lamaran kerja dikirim melalui email. Pertama, karena memang permintaan dari pemberi kerja, yang dituliskan pada iklan lowongan kerjanya meminta pelamar mengirim email pada alamat surel yang tertera.

Kedua, atas inisiatif pelamar mencari email perusahaan pemberi kerja dan mengirim langsung pada email HRD-nya atau yang bakal menyeleksi. Untuk diketahui, nih, perusahaan sering menyukai cara yang kedua karena memperlihatkan usaha dan keinginan kandidat yang kuat untuk jadi bagian perusahaannya.

Cara Mengirim Email Lamaran Kerja yang Tepat

Masalahnya jumlah email yang masuk ke perusahaan (HRD) tersebut bisa ratusan hingga ribuan. Perlu strategi tersendiri supaya email kamu dilirik. Setidaknya, kamu bisa mendapatkan kesempatan wawancara supaya bisa secara langsung mempromosikan diri.

Karena itu, ikuti beberapa cara mengirim email lamaran kerja yang tepat berikut ini supaya perusahaan tertarik mengundang kamu wawancara.

1. Tuliskan subject dengan tepat

Perhatikan pada iklan lowongan kerjanya, apakah kamu diminta menuliskan subject dengan format tertentu? Jika iya, jangan gunakan format lain. Patuhi permintaan rekruter. Misal, diminta menulis Application_ [posisi]_[nama lengkap], maka tulis: Application Customer Service Dudi Ryan.
Rekruter akan menyusun email-email yang masuk berdasarkan subject Application Customer Service. Bila kamu tidak menuliskan subject-nya dengan benar, jangan berharap bakal dibaca lamaran kamu dan dipanggil wawancara.

Bagaimana jika tidak meminta menuliskan subject apa pun? Subject tetap harus diisi, jangan kosong supaya rekruter mengetahui email kamu ditujukan untuk melamar lowongan yang ada. Selain itu, penulisannya harus jelas. Jangan hanya ditulis ‘job application’, ‘application’, ‘lamaran kerja’, dan lainnya.

Cara penulisannya gunakan kata ‘application’, ditambah posisi yang dilamar dan nama. Misal, subject: Application: Account Executive – Reda Sriswasti.

2. Sebutkan nama perekrut

Awali email dengan menyapa perekrut secara sopan. Sebaiknya, sebutkan namanya dan gunakan kata ‘dear’ (lamaran berbahasa Ingrris). Misalnya, dear Mr.Yusuf, dear Mrs. Tanti. Jangan gunakan kata ‘hi’ atau ‘hey’ karena ini bukan email untuk teman.

Kadang nama perekrut dicantumkan dalam lowongan. Jika tidak disebutkan, coba cari dulu nama atau kontaknya. Bisa dari teman kamu yang, misalnya, kerja di perusahaan tersebut atau mencari di LinkedIn. Rekruter akan terkesan dengan usaha kamu mencari namanya. Artinya, kamu bersungguh-sungguh ingin berkerja di perusahaan tesrebut. Tapi, bila tidak ditemukan, boleh menuliskan “Dear, Hiring Managers” atau “Dear Sir or Madam”.

3. Singkat, padat, langsung pada tujuan

Body email jangan dibiarkan kosong. Tuliskan tujuan kamu mengirim email. Tapi, jangan bertele-tele. Langsung masuk ke inti maksud dikirimkan emailnya. Bisa dengan menuliskan, “Please find enclosed my application for the job of account manager (posisi) at (nama perusahaan).”

Kalau kamu diberitahu teman atau kenalan untuk melamar di perusahaan bersangkutan, sebutkan namanya, seperti “Jennifer Ahmad, your former colleague at (nama perusahaan) recommended I contact you about the vacancy for the (nama posisi) position.”

Tidak perlu copy paste cover letter kamu supaya mudah terbaca dalam screening awal pemilihan kandidat.

4. Sebut alasan cocok dengan pekerjaannya

Paparkan juga mengapa kamu adalah kandidat yang cocok untuk posisi tersebut. Tapi, bukan tentang mengapa kamu menginginkan pekerjaannya, melainkan pengalaman dan pencapaian yang sudah pernah kamu dapatkan.

Contoh, Robby melamar sebagai IT manager di perusahaan XYV, maka tuliskan:

As an IT Manager, with a proven record of increasing uses experience scores by over 40% on 20 websites and applications, my goal is to leverage my 5 years experiences and achievements to help XYV succeed with optimizing the UX on your three key online platforms.”

Tulis dengan singkat tapi tonjolkan kemampuan kamu seakan-akan sedang menjual diri. Tunjukkan bahwa kamu memang punya pengalaman, kemampuan, dan performa yang baik (dari pencapaian yang kamu tuliskan).

Tapi, tidak perlu menyebutkan semua ada yang di CV atau resume kamu. Cukup yang paling terkait dengan posisi yang dilamar. Hindari juga memuji-muji perusahaannya, malah terkesan berlebihan dan dibuat-buat.

5. Call to action

Terakhir, nih, “minta” pada perekrut untuk memanggil kamu supaya bisa menjelaskan lebih lanjut. Permohonan wawancara tersebut bisa dengan kalimat:

I would appreciate the opportunity to meet with you to discuss how my qualifications and ideas will be beneficial to your organization’s success.”

Lalu, akhiri dengan signature yang sopan, menggunakan: “Sincerely” atau “Yours Sincerely”. Sebutkan juga nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Contoh:
Sincerely,
Robert Sousa
085731122117

6. Lampirkan lampirannya (attachment)

Jangan lupa melampirkan lampirannya (attachment), yaitu surat lamaran (cover letter) dan CV atau resume. Yang perlu diperhatikan adalah penamaan file dokumen-dokumen lampiran tadi. Jangan hanya ditulis “CV Baru”, “My Resume”, “my cover letter”, dan sejenisnya. Tapi, cantumkan juga nama lengkap kamu dan perusahaan yang dilamar. Misal, Robert_Sousa_CV_XYZ.pdf. Dengan cara tersebut, memudahkan perekrut menyimpan data-data kamu. Bila rekruter merasa dimudahkan, kamu akan mendapatkan kesan yang lebih baik.

Sebaiknya, bila tidak diberitahu dalam persyaratannya, kirimkan lampiran dalam bentuk file PDF. Hindari bentuk Word/Doc karena dokumen akan berubah format bila dibuka dengan versi Microsoft Office yang berbeda dari yang kita gunakan. Kecuali, perusahaannya memang meminta mengirim dalam format Word, ya, harus dikirim dalam format Word.

7. Cek tatabahasa dan ejaan

Setelah semua selesai, jangan terburu-buru mengirim emailnya. Tapi, langsung cek lagi ejaan dan tatabahsanya, takutnya ada kesalahan. Kalau perlu, minta bantuan orang lain untuk memeriksakannya.

Selain itu, baca kembali syarat-syarat lamaran pada iklan lowongan kerja, pastikan kamu yakin memenuhi semua syarat-syarat tadi. Kadang, perusahaan meminta pelamar melampirkan surat atau sertifikat lain selain cover letter dan CV/resume.

 

BACA JUGA:

Artikel Rekomendasi kami