Home > Money & Career > “Hantu” Pekerjaan Pertama, 5 Cara Berdamai dengan Masa Lalu

“Hantu” Pekerjaan Pertama, 5 Cara Berdamai dengan Masa Lalu

“Hantu” Pekerjaan Pertama, 5 Cara Berdamai dengan Masa Lalu

Masih ingatkah dengan pekerjaan pertama kamu? Memperoleh pekerjaan tetap pertama kali adalah salah satu hal paling membahagiakan dalam hidup. Sayangnya, begitu dijalankan, bagi sebagian orang ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Akhirnya, memang, bisa berganti pekerjaan, tapi pengalaman pahit dari pekerjaan pertama terus menghantui setelah sekian lama.

Signifikannya Pekerjaan Pertama

Enggak salah kalau setelah membaca paragraf di atas, ada anggapan pekerjaan pertama seperti cinta pertama. Tidak bisa bersama, tapi sulit juga dilupakan karena penuh excitement dan antisipasi. Seperti yang telah disebutkan, pekerjaan pertama kita biasanya jadi momen penuh kesan dalam hidup.

Malah, pekerjaan pertama bisa menjadi tonggak untuk melangkah selanjutnya. Termasuk, hal-hal tidak menyenangkan yang terjadi saat menjalaninya bisa menjadi bayang-bayang pada pekerjaan selanjutnya.

Hal-hal tidak menyenangkan tersebut yang menghantui, misalnya gagal perform di hadapan atasan langsung, sering dianggap tidak mampu kerja, hubungan dengan rekan kantor yang mendadak memburuk, berujung pada pemutusan hubungan kerja. Kamu juga jadi menyalahkan diri sendiri pada apa yang terjadi.

Hasilnya, seakan-akan tidak mau mengalami hal-hal pahit lagi, langkah pada pekerjaan-pekerjaan selanjutnya dijalani dengan penuh kewaspadaan dan ketakutan mengulangi kesalahan yang sama. Masalahnya, kamu pun jadi membatasi langkah pada pekerjaan-pekerjaan berikut dan berujung juga pada kurang maksimalnya usaha kamu.

Sebaiknya, segera hentikan sebelum ketakutan pada “hantu” pekerjaan pertama tadi sebelum kamu makin tenggelam pada kecemasan tersebut. Perlu diingat, insiden-insiden pada pekerjaan pertama tidak harus selalu memperlihatkan (mendefinisikan) seperti apa diri kamu.

5 Cara Berdamai dengan Hantu Pekerjaan Pertama

Untuk menghentikan “hantu” alias bayang-bayang buruk pekerjaan pertama, kamu perlu berdamai dengan masa lalu tersebut. Berikut RoomMe jabarkan beberapa cara dari Muse.com yang dapat dilakukan untuk “berdamai” tadi.

1. Singkirkan rasa malu

Apapun kejadian yang membuat malu pasti maunya disingkirkan atau dilupakan saja. Wajar jika punya perasaan tersebut karena kejadian memalukan seakan-akan memperlihatkan kelemahan kita. Tapi, tanpa pernah kompromi dan hanya ditekan ke bagian bawah kesadaran kita, rasa malu akan terus menghantui.

Karena itu, cara pertama berdamai dengan masa lalu adalah menerima bahwa apa yang terjadi dari masa lalu sebagai sebuah proses menjadi lebih baik. Tidak usah membawa beban malu masa lalu pada karier saat ini.

Apabila kamu telah berusaha, tapi tetap mengalami pemutusan hubungan kerja, kita sering berpikir kesalahan pada diri sendiri. Padahal, sebagai orang yang baru pertama kali kerja fulltime, masih banyak yang belum diketahui dan harus belajar terus.

Tips: Jangan cemas! Kalau mengalami bentrok dengan rekan kerja atau pekerjaan tidak perform, orang masih bisa memaklumi bahwa kamu masih ada di tahap awal (entry-level). Mereka tidak akan langsung menilai kamu sebagai pekerja yang buruk hanya karena kesalahan beberapa tahun sebelumnya.

2. Pertajam cerita

Setiap orang, dari teman-teman sekolah sampai tante-tante kamu, pasti bertanya alasan kamu berhenti dari pekerjaan pertama tadi. Tidak perlu mengelak, tapi jelaskan dengan cara sederhana sehingga tidak membingungkan sekaligus jadi modal melangkah lagi.

Contohnya, bisa seperti ini:

Jika di-PHK karena perubahan dalam perusahaan: “Saya termasuk dalam perampingan besar-besaran perusahaan. Sangat disayangkan, memang. Namun, saya selalu siap mengerjakan hal yang lebih baik lagi.”

Jika dipecat: “Pekerjaan tersebut bukan yang terbaik untuk saya. Saya sekarang siap mengejar karier yang lebih baik lagi.”

Tidak usah menjelaskan lebih dalam lagi alasan kamu berhenti dari pekerjaan pertama. Dengan menekankan apa yang kamu lakukan selanjutnya, orang lain akan lebih mengingat perkataan tersebut. Bukan cerita sedih kamu soal pekerjaan pertama (simpan cerita ini untuk sahabat terdekat saja).

Tips: Mau kesal, sedih, atau marah pada pekerjaan pertama kamu, jangan sampai menjelek-jelekkan perusahaan tersebut saat bercerita. Dunia ini kecil, kamu tidak akan pernah tahu jika suatu saat perkataan buruk kamu sampai ke perusahaan lain yang ingin dilamar.

3. Perbarui status media sosial dan profil LinkedIn

Status tidak bekerja mungkin tidak ingin kamu bagikan begitu saja pada dunia. Namun, ingat, sebagian besar pekerjaan datang dari teman dan koneksi personal lainnya. Tindakan asertif ini memang bikin nervous, tapi merupakan langkah menjalin koneksi yang masuk akal dan mudah dilakukan saat ini.

Kamu bisa membuat status seperti:

Update: Saya sudah tidak bekerja di [nama perusahaan] dan sedang mencari pekerjaan sebagai [posisi] dalam [nama bidang pekerjaa]. [Jelaskan sedikit mengenai latar belakang, pengalaman, dan keahlian atau kemampuan kamu]. Jika mengetahui ada kesempatan tersebut, mohon kabari saya. Nantikan kabar terbaru saya lainnya!”

Jangan lupa, perbarui profil LinkedIn kamu. Tuliskan latar belakang, kemampuan, dan pencapaian kamu selama bekerja di perusahaan sebelumnya. Profil yang selalu diperbarui memudahkan perekrut menemukannya.

Tips: Lakukan pembaruan tersebut setelah kamu bisa menyusun “cerita” mengenai alasan berhenti dari pekerjaan sebelumnya—dalam hal ini, pekerjaan pertama. Namun, menyusun cerita tersebut lakukan segera supaya kamu bisa secepatnya move on dan menemukan kesempatan baru.

4. Perbarui CV atau Resume

Jangan biarkan CV kamu apa adanya dalam waktu lama. Selalu cek dan perbarui CV untuk menyesuaikan dengan kondisi kamu dan perkembangan industri yang ingin kamu geluti. Begitu ada yang meminta CV atau menemukan lowongan yang menarik, bisa langsung kirim CV yang terbaru. Keahlian kamu juga sudah bertambah dari pekerjaan sebelumnya.

Tidak perlu terlalu mencemaskan fakta bahwa kamu hanya bekerja selama beberapa pada pekerjaan pertamamu. Jarak atau kekosongan yang panjang antara satu pekerjaan kamu dengan yang lainnya juga tidak usah terlalu dikhawatirkan. Kamu selalu punya kesempatan menjelaskan apa yang terjadi pada saat wawancara kerja.

Tips: Optimasi resume pada setiap lowongan yang akan kamu lamar. Baca unggahan lowongan kerja dengan seksama dan catat istilah atau frase mengenai calon karyawan yang dicari oleh perusahaannya. Kemudian, masukkan kata-kata kunci tadi pada CV kamu—yang sesuai dengan diri kamu, pastinya!

BACA JUGA:

5. Refleksi diri

Mampu lepas dari beban masa lalu adalah anugerah. Ingat saja, jika kamu bahagia dengan pekerjaan pertama kamu, hal tersebut bisa jadi fondasi atau dorongan untuk membangun karier selanjutnya.

Sebaliknya, jika tidak senang pada pekerjaan pertama, pengalaman tersebut bisa jadi tanda untuk membuat sebuah perubahan. Lakukan semacam introspeksi diri dengan bertanya pada diri sendiri:

– Apa yang kamu senangi dari pekerjaan pertama tersebut?

– Apa yang tidak kamu sukai dari pekerjaan pertama itu?

– Pekerjaan semacam apa yang kamu inginkan pada awal berburu pekerjaan pertama dulu? Apakah pekerjaan tersebut masih kamu inginkan saat ini?

– Apa langkah selanjutnya yang akan kamu coba atau jalani?

Jangan pernah berpikir sudah terlambat atau tidak ada waktu lagi. Mulai dari sekarang—setelah membaca artikel ini—juga waktu yang tepat untuk memulai langkah baru dengan percaya diri dan keyakinan untuk sukses.

BACA JUGA:

Artikel Rekomendasi kami