Home > Lifestyle > Kisah-Kisah Saling Membantu dalam Islam Sebagai Teladan di Bulan Ramadhan

Kisah-Kisah Saling Membantu dalam Islam Sebagai Teladan di Bulan Ramadhan

Kisah-Kisah Saling Membantu dalam Islam Sebagai Teladan di Bulan Ramadhan

Selain menahan lapar dan haus, keberkahan puasa di bulan Ramadhan semakin lengkap bila mau saling membantu terhadap sesama. Sikap mau saling membantu, selain telah jadi bagian dari norma sosial, bisa dibilang merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Karena itu, sudah sejak lama agama Islam mengajarkan untuk saling membantu sesama manusia. Seperti diketahui dari berbagai kisah Islami yang diceritakan dari masa ke masa.

Saling membantu atau tolong-menolong dalam agama Islam disebut juga dengan istilah ta’awun. Ta’awun ini adalah suatu amal yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Bentuknya dapat berupa materi, akal, fisik, doa, dan lainnya.

Anjuran saling membantu ini juga diisyaratkan dalam Al-Quran untuk jadi bagian dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti yang disebutkan dalam surat Al-Maidah ayat 2:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”

Dalam pengertian secara psikologi, dikutip dari Dosenpsikologi.com, tindakan membantu, menurut Wrightsman & Deaux (1981), adalah setiap tindakan yang memberikan keuntungan bagi orang lain yang membutuhkan. Dan, menurut Staub (1978) & Wispe (1972), tindakan membantu adalah tindakan yang menguntungkan bagi orang lain yang membutuhkan lebih daripada diri sendiri.

Dengan begitu, saling membantu merupakan bentuk kebajikan yang mendahulukan kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan sebagai bentuk ketakwaan kita terhadap Allah SWT.

BACA JUGA:

Manfaat saling membantu

Bukan hanya menolong orang yang sangat membutuhkan serta menambah pahala, saling membantu juga memiliki beberapa manfaat.

Seperti diungkapkan dalam hadist riwayat Ahmad, Allah tidak ragu memberikan bantuanya:

“Allah selalu menolong orang selama orang itu selalu menolong saudaranya.”

Salah satu alasan membantu orang lain adalah anjuran yang diwajibkan supaya kita belajar lebih rendah hati dan jangan sombong memandang orang lain.

Hadist riwayat muslim juga mengungkapkan tentang manfaat serupa dari membantu sesama:

“Barangsiapa yang berusaha melapangkan suatu seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari suatu kesusahan di hari kiamat dan barang siapa yang berusaha memberi kemudahan bagi orang yang kesusahan, maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat.Allah selalu membantu hamba-Nya selama hamba itu menolong sesama saudaranya.”

Membantu orang membuat diri sendiri merasa lebih baik, menjadi pribadi yang bertanggung jawab, menimbulkan perasaan berguna dan berharga, serta membantu kita memahami diri sendiri dan hal-hal baru.

BACA JUGA:

Kisah Umar bin Khattab

Dilansir dari Lokadata.id, kisah ini terdapat dalam khitab Al-Kharaz, kaya Abu Yusuf, seorang ulama besar pengikut madzhab Hanafi. Suatu ketika, Umat bin Khattab lewat di depan rumah salah satu rakyatnya. Tampak di dekat pintu rumah tersebut, ada seorang kakek tunanetra sedang mengemis. Umar segera menghampiri dan menepuk lengan kakek itu sambil bertanya:

“Engkau dari agama apa?” Kakek itu menjawab, “Yahudi”. “Lalu apa yang mendorongmu ke sini?” tanya Umar lagi. “Aku meminta bagian pajak, usiaku sudah tua, dan perlu uang untuk memenuhi kebutuhan hidupku,” jawab kakek tadi.

Mendengar jawabannya, Umar segera membawa kakek tersebut ke rumahnya dan diberikan bantuan untuk kebutuhan hidupnya. Umar juga memanggil penjaga baitul mal untuk memberikan santunan pada kakek itu. Umar berkata:

“Lihatlah kakek ini, berilah ia bagian dari baitul mal. Demi Allah, kita tidak memenuhi haknya. Kita telah memakan uang pajak yang ia berikan saat usianya masih muda. Kini, ketika ia sudah tua, kita justru menelantarkannya.”

Kesimpulan:

Dari cerita tersebut, bisa terlihat bahwa Umar menyadari sebagai penguasa, beliau harus membantu rakyatnya, apapun agamanya. Perbedaan agama bukan menjadi penghalang untuk saling membantu (ta’awun).

Khalifah Umar juga merasa berbuat zalim bila tidak memenuhi hak kakek tersebut sebagai warga negara dan pernah membayar pajak, serta sebagai orang tua yang harusnya diperhatikan oleh negara.

Kisah Nabi Musa AS

Suatu waktu, Nabi Musa memohon kepada Allah SWT agar saudaranya Harun membantu dalam berdakwah. Keinginan Musa tadi seperti disebutkan dalam Al-Quran:

“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau dan mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.” (Thaaha: 29-35)

Allah kemudian menjawab permohonan Nabi Musa tadi seperti dimuat dalam suray Al-Qashash:

“Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar.” (Al Qashash: 35)

Setelah itu, Harun membantu Musa untuk menyebarkan risalah Allah ketika sedang di rumah. Harun juga diberikan wewenang menggantikan kedudukan Musa ketika ia sedang pergi.

Kisah Abu Nasr As-Sayyad

Diceritakan dalam Short Islamic Stories , tentang Abu Nasr As-Sayyad, seorang nelayan yang sangat miskin. Suatu hari, dia kehabisan makanan untuk istri dan anaknya. Abu Nasr pun pergi ke mesjid dan menangis. Imam mesjid yang melihatnya membawa Abu Nasr ke pinggir sungai dan memintanya salat, kemudian melemparkan jaring ikan atas nama Alla. Ternyata, dia berhasil menangkap ikan besar dan menjualnya di pasar. Uang hasil penjualan dia belikan sepotong roti kecil.

Dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan seorang wanita yang sangat miskin dan anak laki-lakinya sedang dalam kondisi kelaparan. Mereka hanya memandang roti yang dibawa Abu Nasr. Abu Nasr memikirkan keluarganya yang kelaparan juga, tapi ingat Allah tidak akan meninggalkannya. Maka ia memberi roti kecil itu pada wanita dan anaknya yang miskin tadi. Wanita tersebut tampak senang dan berterima kasih sambil menangis.

Abu Nasr pulang dalam keadaan sedih karena tidak membawa makanan sedikit pun. Tapi, baru tiba di rumahnya, seorang pria mengetuk pintu dan bertanya, “Apakah ini rumah Abu Nasr As-Sayyad?” Setelah Abu Nasr mengiyakan, tamu tadi langsung memberinya sejumlah uang yang diakuinya telah dipinjam dari almarhum ayah Abu Nasr. Abu Nasr heran tapi juga bahagia.

Setelah itu, Abu Nasr menggunakan uang tadi untuk memberi makan keluarganya sekaligus berusaha. Dia pun menjadi pedagang dan menjelma menjadi orang yang sangat kaya. Hanya saja, dia mulai sombong dan beramal hanya untuk memamerkan kekayaannya.

Amal ditimbang

Suatu malam, Abu Nasr bermimpi berada di hari penghakiman, ketika malaikat mengukur perbuatannya selama hidup. Ternyata, setelah ditimbang, perbuatan buruk Abu Nasr beratnya sebesar gunung dan amal baiknya hanya seringat seikat kapas. Penyebabnya, meski dia sering beramal, tapi amalan tersebut sia-sia karena dia hanya pamer dan tidak tulus.

Malaikat kembali bertanya, “Adakah kebaikan yang tersisa?” Menurut Abu Nasr, dia pernah memberikan roti kecil kepada wanita miskin meski dia sendiri kelaparan. Amalan tadi ditambahkan malaikat dan, memang, berat kebaikannya mulai bertambah karena sebesar ribuan dirham. Tapi masih kurang bobotnya dibanding amal jahatnya.

Malaikat bertanya apalagi yang tersisa. Abu Nasr kemudian menjawab senyum anak kecil miskin tadi yang mendapatkan roti. Setelah ditambahkan, timbangan amal buruk dan amal baiknya jadi seimbang.

Sekali lagi, malaikat bertanya apakah ada yang masih tersisa. Ditambahkanlah air mata wanita miskin tadi yang menangis bahagia. Air mata tersebut ternyata seberat lautan. Hasilnya, timbangan Abu Nasr berubah, perbuatan baik lebih banyak dibanding jahatnya. Malaikat pun berkata dia terselamatkan.

Begitu bangun, Abu Nasr memohon ampun pada Allah dan bersyukur atas sepotong roti kecil itu.

Kisah Roommies untuk saling membantu

Demikian kisah-kisah tentang keutamaan ta’awun dalam Islam. Ingin menuliskan kisah saling membantu punya kamu sendiri? Yuk, ikut berpartisipasi pada program RoomMe #SeribuUntukBangkit.

Program donasi yang berlangsung dari tanggal 1-22 Mei ini dapat Roommies lakukan di Pedulisehat.id sebagai partner platform donasi.

Uniknya lagi, program yang berpartner dengan Genflix ini dapat dilakukan mulai dari nominal Rp 1000 saja. Nantinya, hasil pengumpulan donasi akan diberikan pada mereka yang menggantungkan hidup dari dan terkena imbas Covid-19 secara ekonomi.

Antara lain, para pedagang kecil, pengendara ojek online, pedagang asongan, pekerja warung/toko kecil, panti asuhan, panti jompo, hingga buruh pabrik. Bantuan yang akan diberikan dalam bentuk pangan/sembako.

Caranya mudah saja:

  • Salurkan Donasi “Seribu Untuk Bangkit”, melalui halaman khusus RoomMe pada website Pedulisehat.id.
  • Pilih metode pembayaran seperti Gopay, Ovo, Dana, Transfer Bank hingga Virtual Account.
  • Pastikan kamu telah mengisi data email dan no handphone aktif, ketika berdonasi melalui Pedulisehat.id.
  • Tim RoomMe akan mengirimkan kode akses layanan streaming dari Genflix, langsung ke email dan no handphone kamu. Karena, bagi yang telah berdonasi, dapat menikmati akses gratis layanan streaming film selama satu bulan di Genflix gratis.

 

BACA JUGA:

Artikel Rekomendasi kami