Home > Lifestyle > 7 Fakta Menarik Tentang Sumpah Pemuda yang Jarang Orang Tahu!

7 Fakta Menarik Tentang Sumpah Pemuda yang Jarang Orang Tahu!

7 Fakta Menarik Tentang Sumpah Pemuda yang Jarang Orang Tahu!

Seperti yang tercatat dalam sejarah, pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Sumpah Pemuda, yang turut menjadi tonggak utama pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Disamping itu banyak lagi fakta sumpah pemuda yang perlu diketahui para pemuda masa kini.

Setelah berabad-abad dikalahkan oleh kolonialisme dengan politik devide et impera-nya, pada 28 Oktober 1928 itu para pemuda dari berbagai daerah dan suku bangsa di Nusantara mengikrarkan persatuan anti-kolonial di atas pijakan: “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia”.

7 Fakta Menarik Sumpah Pemuda

Dengan ikrar itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, politik devide et impera kolonial mulai terpatahkan. Pergerakan nasional yang dipelopori para pemuda pelan-pelan berhasil menyingkirkan sekat-sekat yang selama ini memisah-misahkan perjuangan mereka, terutama semangat kesukuan dan kedaerahan.

Namun rupanya momen penting ini, dibumbui dengan banyak hal menarik. Dikutip dari berbagai sumber, berikut tujuh fakta unik Sumpah Pemuda yang perlu diketahui anak muda jaman sekarang.

1. Awalnya tidak disebut “Sumpah Pemuda”

Tahukah kamu, pada saat kongres berlangsung, rumusan yang ditulis oleh Mohammad Yamin tidak disebut sebagai Sumpah Pemuda. Istilah Sumpah Pemuda baru muncul beberapa hari setelah kongres usai. Akan tetapi, peringatan Sumpah Pemuda tetap didasarkan pada tanggal pembacaan ikrar, yakni 28 Oktober.

2. Bahasa Belanda Ada Di mana-mana

Bahasa Belanda boleh dibilang sangat mendominasi Kongres Sumpah Pemuda. Ditandai dengan hampir sebagian pembicara dalam Kongres Pemuda II, yang saat itu menggunakan bahasa Belanda. Siti Soendari, misalnya. Pemuda yang turut menyampaikan pidato ini menggunakan Bahasa Belanda dalam kongres.

Tak hanya pembicara, notulen rapat dalam kongres pun ditulis menggunakan bahasa Belanda. Meski begitu ada juga yang mahir berbahasa Melayu yang kelak menjadi bahasa Indonesia, yakni Mohammad Yamin. Ia bertugas sebagai Sekretaris Sidang dan menerjemahkan pidato serta kesepakatan sidang ke dalam bahasa Melayu.

3. “Merdeka” Jadi Kata Terlarang dalam Kongres

Yel-yel “Merdeka” yang sudah berulang kali berkumandang, tepatnya sejak Kongres pertama berlangsung, rupanya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Belanda. Sampai-sampai polisi Belanda harus mengawasi dengan ketat jalannya Kongres. Belanda lantas mengeluarkan larangan kata “Merdeka” dalam Kongres.

BACA JUGA: 5 Negara yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia Pertama Kali

4. Hanya ada 6 perempuan yang ikut Kongres

Peran perempuan dalam Kongres Pemuda II tidak begitu menonjol. Ini ditandai pula dengan sangat sedikitnya jumlah peserta pemudi yang hadir dalam kongres.

Berdasarkan buku resmi Panduan Museum Sumpah Pemuda, peserta kongres yang tercatat hanya ada 82 orang. Padahal sejatinya ada 700-an peserta yang hadir di gedung yang digunakan untuk melangsungkan kongres. Peserta perempuan sendiri hanya ada enam orang, yaitu Dien Pantow, Emma Poeradiredjo, Jo Tumbuan, Nona Tumbel, Poernamawoelan, dan Siti Soendari.

Dari keenam peserta perempuan tersebut, hanya tiga peserta yang turut menyampaikan pidatonya dalam kongres, yakni Mardanas Safwan, Emma Poeradiredjo dan Siti Soendari.

5. Naskah Sumpah Pemuda Ditulis oleh satu Orang

Mohammad Yamin yang menjadi Sekretaris dalam kongres turut mengikuti rapat maraton yang digelar 27-28 Oktober 1928. Ia juga berdiskusi bersama utusan lain dari berbagai daerah. Berdasarkan diskusi dalam rapat tersebut, tercetuslah Ikrar Pemuda.

Yamin sendiri bertugas untuk meramu rumusan dari hasil diskusi. Hebatnya, tak butuh waktu lama bagi Yamin untuk merumuskan Ikrar Pemuda yang kemudian ia serahkan kepada kepala Kongres, Soegondo Djojopoespito.

Soegondo kemudian membaca rumusan Yamin dan memandang ke arahnya. Yamin tersenyum dan dengan spontan Soegondo membubuhkan parafnya. Seterusnya rumusan Yamin disetujui oleh seluruh utusan organisasi pemuda.

6. Lagu Indonesia Raya Diperdengarkan untuk Pertama Kali

Untuk pertama kalinya, lagu “Indonesia Raya” diperdengarkan langsung oleh penciptanya, Wage Roedolf Soepratman, dengan gesekan biola. Tetapi tanpa syair, karena dikhawatirkan kata “Indonesia” dan “Merdeka” dalam syair lagu itu bisa menimbulkan masalah dengan petugas Polisi Belanda.

7. Peserta Kongres Banyak yang Memakai Peci

Fakta sumpah pemuda terakhir adalah peci. Peci yang diperkenalkan oleh Bung Karno sebagai identitas pergerakan nasional, banyak dipakai oleh peserta Kongres. Ini juga menandai awal penggunaan peci sebagai identitas pergerakan di forum resmi yang bersifat luas. Namun, karena saat itu peci masih langka di Hindia-Belanda, maka sebagian peserta kongres menggunting pinggiran topi Eropanya sehingga menyerupai peci.

 

Artikel Rekomendasi kami