Home > Lifestyle > 7 Rekomendasi Buku Fiksi Karya Novelis Indonesia untuk Mengisi Waktu di Kost

7 Rekomendasi Buku Fiksi Karya Novelis Indonesia untuk Mengisi Waktu di Kost

7 Rekomendasi Buku Fiksi Karya Novelis Indonesia untuk Mengisi Waktu di Kost

Salah satu cara yang nyaman dan menyenangkan mengintip kisah orang di bagian dunia yang berbeda adalah dengan membaca buku fiksi. Kisah haru, sedih, kagum, dan bahagia bisa ditemukan lewat tutur kalimat yang membawa imajinasi semakin meluas.

Banyaknya pilihan buku fiksi sering kali membuat kita kesulitan menentukan bahan bacaan. Apalagi, kualitas novelis Indonesia kini semakin berkualitas. Oleh sebab itu, berikut RoomMe kasih rekomendasi tujuh buku fiksi karya novelis Indonesia untuk mengisi waktu di kost.

7 Buku Fiksi Karya Novelis Indonesia

Tujuh novelis ini sudah menghasilkan karya tulis, yang tentunya sangat digemari masyarakat. Bahkan, meski hanya menciptakan sebuah tulisan satu kalimat, mereka berhasil menyampaikan pesan yang mendalam dan bermakna. Apa saja judul bukunya? Simak ulasan berikut, ya!

1. Aroma Karsa – Dee Lestari

Aroma Karsa, Salah satu buku fiksi untuk mengisi waktu di kost

Sumber: Dok. Pribadi

Nama Dewi Lestari atau akrab dengan nama pena Dee Lestari sudah sejak lama mewarnai dunia sastra tanah air. Terkenal dengan trilogi novelnya berjudul “Supernova”, Dee kembali mencuri perhatian dengan “Aroma Karsa”.

Membaca “Aroma Karsa” bukan hanya meluaskan imajinasi kita, tapi juga membayangkan berbagai macam wewangian yang ada. Kita sering abai dengan wangi yang ada, padahal penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia.

Selain Aroma Karsa, Dee Lestari juga terkenal dengan karyanya seperti “Perahu Kertas”, “Madre”, dan “Filosofi Kopi”.

2. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, buku fiksi saat waktu senggang di kost

Sumber: Dok. Pribadi

Novel yang ramai dibicarakan karena filmnya akan segera rilis ini bercerita tentang Ajo Kawir, seorang anak yang diam-diam mengintip pemerkosaan seorang perempuan gila oleh dua polisi. Ajo Kawir yang ketahuan mengintip kemudian dipaksa ikut bergabung dengan dua polisi tersebut. Tak disangka, ada suatu kejadian yang mengubah hidup Ajo Kawir sampai dewasa.

Seperti karya-karya sebelumnya, Eka Kurniawan tak pernah menyaring kata-katanya. Bahasa brutal dan vulgar kerap muncul di beberapa dialog, layaknya novel dia sebelumnya, “Cantik Itu Luka”.

Ciri khas Eka Kurniawan adalah setting cerita juga selalu erat dengan kehidupan sosial masyarakat menengah ke bawah. Namun, isu yang diangkat Eka kebanyakan selalu tabu untuk dibicarakan, meskipun isu tabu tersebut memang nyata ada di masyarakat.

3. Panggil Aku Kartini Saja – Pramoedya Ananta Toer

Panggil Aku Kartini Saja

Sumber: Dok. Pribadi

Selain tetralogi “Bumi Manusia”, karya Pramoedya Ananta Toer yang bisa mengisi waktu di kost selanjutnya adalah “Panggil Aku Kartini Saja”.

Di buku ini Pram melakukan banyak riset tentang pahlawan emansipasi wanita Indonesia ini. Dan, kamu bisa menemukan banyak fakta menarik tentang pandangan wanita di masa penjajahan, bagaimana Kartini diperlakukan, dan bagaimana usaha beliau agar perempuan Indonesia juga bisa berdaya dan dipandang setara dengan laki-laki.

Sayangnya, di bagian akhir buku kamu menemukan cerita yang tak selesai. Pasalnya, banyak buku Pram yang dibakar oleh Belanda karena dinilai sebagai pemberontakan, salah satunya bagian lain dari novel ini.

4. Saman – Ayu Utami

Saman

Sumber: Dok. Pribadi

Buku fiksi ini mengangkat tema seksualitas perempuan yang kala itu masih tabu untuk dibicarakan. Karena itu, novel ini sempat menimbulkan kontroversi.

“Saman” juga bercerita tentang tindakan besar untuk mengatasi masalah kemanusiaan dan keadilan yang sering terjadi pada masa itu, khususnya di daerah-daerah yang masih terpelosok seperti Prabumulih, tempat tokoh utama bernama Wisanggeni mengabdi menjadi pastor.

Bahasa dalam “Saman” sangat indah, penuh dengan kiasan dan perumpamaan. Namun, membaca novel ini tetaplah seperti membaca rangkaian kalimat ringan.

5. Laut Bercerita – Leila S. Chudori

Laut Bercerita

Sumber: Dok. Pribadi

Di novel “Laut Bercerita”, Leila terinspirasi dari kisah nyata tentang mereka, para aktivis dan mahasiswa, yang hilang dan tak kembali pada saat Orde Baru dengan latar kerusuhan 1998.

Penulis yang terkenal dengan karya “Pulang” ini bercerita tentang tokoh utama, Laut Biru, yang merupakan aktivis mahasiswa yang selalu jadi incaran aparat karena dikira pembuat onar.

Dengan sudut pandang orang pertama, Laut bercerita tentang berbagai hal yang dialaminya, seperti perjuangan, pengkhianatan, kehilangan, juga penyangkalan. Cerita novel ini memang fiksi, tapi yang kita rasakan begitu hidup seperti nyata di depan mata.

6. Biola Tak Berdawai – Seno Gumira Ajidarma

Biola tak berdawai

Sumber: Dok. Pribadi

Terinspirasi dari naskah skenario film dengan judul yang sama, Seno Gumira kemudian membuat novel “Biola Tak Berdawai” begitu melankolis.

Novel ini bercerita tentang anak tunadaksa bernama Dewa yang diserahkan orang tuanya ke panti asuhan bernama rumah asuh “Ibu Sejati”. Panti asuhan ini dikelola oleh dua orang wanita bernama Renjani dan Mbak Wid. Dewa merasakan cinta yang luar biasa dari ibu asuhnya ketika ia merasa sengaja dibuang oleh ibu kandungnya sendiri karena kondisi tubuhnya.

Dengan sudut pandang Dewa yang tak bisa berbicara, tak bisa berjalan, tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, dan hanya bisa berpikir, Seno berhasil membuat pembaca turut empati kepada penyandang tunadaksa.

Coba baca sedikit kutipan dari buku tersebut:

“Sekali lagi maafkanlah kemampuanku yang pas-pasan dalam bercerita. Harap maklum, dengan bahasa dan cara berpikiranmu ini, tidak terlalu mudah bagiku untuk menjelmakan kembali duniaku, karena bagi dunia apa pun, bagaimanakah caranya membahasakan dunia dengan cara yang tidak bisa lebih baik lagi? Terus terang aku diliputi keraguan yang amat sangat tentang kemampuanku, baik itu kemampuan memahami dunia kami maupun kemampuan menceritakannya kembali. Karena itu sekali lagi maafkanlah aku atas segala kekuranganku ini.” (Ajidarma, 2004:198)

7. Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Ronggeng Dukuh paruk

Sumber: Dok. Probadi

Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” berisi pengalaman hidup Tohari yang dikemas dalam bentuk fiksi. Awalnya berbentuk trilogi, yaitu “Catatan buat Emak”, “Lintang Kemukus Dini Hari”, dan “Jantera Bianglala”. Sudah 37 tahun sejak novel tersebut kali pertama diterbitkan, sampai saat ini masih terus dicetak ulang.

“Ronggeng Dukuh Paruk” bercerita tentang Srintil yang menjadi penari ronggeng. Sebagai penari, ia tak diperbolehkan terikat dengan hubungan. Namun, setelah ia bertemu Rasus, ia tak pernah berhenti memikirkannya. Sikap Srintil inilah yang menentukan kepribadiannya yang tegar dan berani melangkahi ketentuan-ketentuan yang telah lama mengakar di dalam dunia peronggengan.

Selain difilmkan dengan judul “Sang Penari”, novel ini juga diterjemahkan dalam beberapa bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, terbaru, Spanyol dan Italia. Karena kondisi politik pada saat itu, banyak pihak yang menganggap Tohari sebagai penganut paham kiri. Bahkan sampai sekarang, anggapan itu tetap sayup terdengar di telinga.

BACA JUGA:

Artikel Rekomendasi kami