Home > Food > 7 Makanan Fermentasi Khas Indonesia yang Dibuat dengan Hasil Bioteknologi

7 Makanan Fermentasi Khas Indonesia yang Dibuat dengan Hasil Bioteknologi

7 Makanan Fermentasi Khas Indonesia yang Dibuat dengan Hasil Bioteknologi

Indonesia memiliki banyak makanan khas yang enak dan unik. Setiap daerah memanfaatkan hasil buminya untuk diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi, termasuk makanan fermentasi. Makanan fermentasi diciptakan oleh para leluhur Indonesia. Makanan fermentasi dibuat dengan menggunakan prinsip bioteknologi sederhana dengan memanfaatkan mikroorganisme seperti ragi, bakteri, fungi, dan kapang.

7 Makanan Fermentasi Hasil Bioteknologi Sederhana

Hampir semua makanan tradisional Indonesia yang dibuat dengan hasil bioteknologi ini diproduksi secara rumahan. Tidak hanya rasanya yang unik dan enak, namun memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Berikut beberapa makanan tradisional Indonesia yang dibuat melalui proses fermentasi.

1. Tempe

bioteknologi

sumber: kompas

Makanan tradisional Indonesia ini sudah dikenal dunia. Tempe terbuat melalui bioteknologi sederhana dari hasil fermentasi biji kedelai menggunakan ragi. Tempe sangat enak diolah dengan cara digoreng atau diolah sebagai campuran makanan lain.

Jenis tempe pun beragam sesuai dengan bahan baku yang digunakannya seperti tempe kedelai, tempe bungkil khas Jawa Tengah, tempe bongkrek, tempe enjes khas Malang, tempe benguk khas Yogyakarta, tempe kecipiur khas Sumenep hingga tempe lamtoro kas Yogyakarta.

BACA JUGA: 12 Oleh-Oleh Khas Jogja yang Murah dan Unik

Dikutip dalam buku berjudul Teknologi Pengolahan Pangan: Pembuatan Tempe oleh Ir. M. Lies Suprapti, tempe mengandung vitamin B12 lebih dari 4 mcg (microgram) yang biasanya terdapat pada daging. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12, cukup dengan mengkonsumsi 25 gram tempe setiap hari.

2. Oncom

bioteknologi

sumber: bobo

Oncom merupakan makanan tradisional Indonesia yang dibuat dengan cara fermentasi dan berasal dari Jawa Barat. Dalam proses pembuatannya yang mana hasil dari bioteknologi sederhana, oncom dibuat dengan bungkil tahu yang difermentasikan dengan jamur Neurospora intermediavar. Oncom memiliki rasa dan aroma yang unik.

Ada dua jenis oncom di pasaran, yaitu oncom merah dan oncom hitam. Oncom merah dibuat dengan menggunakan Neurospora sitophila sedangkan oncom hitam menggunakan Rhizopus oligosporus. Oncom hitam juga tidak dibuat dari ampas tahu tetapi dengan ampas kacang.

Di Jawa Barat, oncom diolah menjadi beragam makanan enak dan cenderung memiliki citarasa gurih pedas. Ulukutek leunca khas sunda menjadi salah satu yang populer yakni dibuat dengan bahan oncom, leunca, daun kemangi dan cabai. Selain itu ada juga nasi tutug oncom khas Tasikmalaya yang dibuat dari nasi dan diaduk dengan oncom goreng kemudian dibakar.

3. Tape

bioteknologi

sumber: kompas

Makanan tradisional Indonesia lainnya adalah tape. Tapi menjadi makanan khas Pulau Jawa yang sudah sangat terkenal. Tape bisa dibedakan dari beberapa jenis sesuai dengan bahan baku pembuatannya yaitu tape singkong dan tape ketan.

Makanan tradisional Indonesia tape ini juga hasil dari bioteknologi sederhana yang dibuat dengan menggunakan mikroorganisme berupa jamur Saccharomyces cerevisiae.

Jenis tape lainnya yang berasal dari Kabupaten Bondowoso ini justru memanfaatkan ubi ungu yang diolah menjadi tape. Cara membuat tape ubi ungu ini tidak jauh berbeda dengan membuat tape berbahan singkong. Ubi atau singkong dikupas, kemudian dicuci bersih, lalu dikukus. Setelah matang, ubi kemudian ditiriskan di atas meja atau tampah bambu hingga dingin.

Setelah dingin, ubi kemudian dibalur dengan ragi hingga merata dan dimasukkan ke dalam besek anyaman bambu yang sudah dilapisi dengan daun pisang dan tutup rapat. Diamkan selama tiga hari agar ubi bisa menjadi tape.

4. Pakasam

bioteknologi

sumber: tribun

Pakasam merupakan menu makanan khas Banjar, Kalimantan Selatan. Makanan ini berasal dari proses fermentasi ikan air tawar yang didiamkan beberapa hari sehingga menghasilkan rasa yang asam. Ada dua jenis ikan yang paling banyak diolah menjadi pakasa, yaitu ikan sepat dan ikan papuyu. Proses fermentasi ini dibantu oleh bakteri asam laktat berupa nasi.

BACA JUGA: 6 Makanan Tahan Lama Tanpa Pengawet, Bahkan Sampai Berbulan-bulan!

5. Lemea

bioteknologi

sumber: cookpad

Pernah mendengar lemea? Lemea merupakan makanan tradisional Indonesia dan menjadi makanan khas Suku Rejang. Suku Rejang ini ialah suku tertua di Pulau Sumatera selain bangsa Melayu.

Lemea berasal dari bambu muda yang dicincang lalu dicampur dengan ikan air tawar seperti ikan mujari dan sepat. Kemudian, disimpan dalam wadah dan dieram selama tiga hari. Setelah itu, lemea baru dapat dinikmati dengan nasi.

Lemea memiliki aroma yang tajam dan terkesan tidak sedap. Namun, siapa sangka banyak orang yang menyukai lemea sebagai makan lauk nasi dicampur dengan ikan.

6. Dadih

 bioteknologi

sumber: GenPi

Dikutip dari Kanal Pengetahuan dan Informasi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, dadih merupakan produk susu fermentasi yang berasal dari Minangkabau, Sumatra Barat. Dadih berasal dari susu kerbau yang dimasukkan ke dalam tabung bambu dan ditutup menggunakan daun pisang. Kemudian, didiamkan selama satu hari dengan suhu ruang hingga terbentuk gumpalan.

Gumpalan terbentuk karena adanya mikroba yang berasal dari bambu dan pisang sehingga akan menghasilkan bentuk yang menjendal dan berwarna putih kekuningan dengan aroma khas.

7. Brem

brem

sumber: etnis

Brem menjadi salah satu makanan ringan dan sering dijadikan oleh-oleh khas Jawa Timur. Jika kamu menemukan brem dengan warna putih kekuningan memiliki rasa manis asam itu adalah brem madiun. Pusat penghasilan brem terletak di Desa Caruban dan sudah dibuat secara turun temurun. Brem mengandung alkohol berkat hasil fermentasinya.

Brem adalah makanan tradisional Indonesia berasal dari sari ketan yang dimasak dan dikeringkan. Fermentasi ketan hitam yang diambil sarinya saja kemudian diendapkan dalam waktu sekitar sehari semalam. Sensasi makan brem cukup unik karena ketika dimasukkan ke dalam mulut akan langsung mencair dan lenyap meninggalkan rasa ‘nyes’ di lidah.

Artikel Rekomendasi kami